bayoeaza’s

Just another bayoetech web blog’s

Saat Cinta Itu Mematikan

Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan

Semuanya telah hancur dan pergi

Semuanya hanya tinggal sebuah kenangan yang sangat menyakitkan

Merobek hati dan hancurkan jiwa

Semua telah berakhir….

Walau masih tersimpan sedikit perasaan di hati ini

Ku coba bertahan dengan sekuat hati

Walau air mata harus terus menetes

Ku coba untuk terus tersenyum dan tampak bahagia

Kepada semua orang dan dirimu…

August 29, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet

hati yang gersang

kepadaku, hatimu ; belum menemukan jiwa
kepadaku hatiku merapuh, melemah tak berdaya;

kepadamu bidadari khayalku;
dimana lagi kau simpan cerita tentang perasaan ku, diamana kau simpan kasih tentang
hatiku yang tak pernah memiliki kebahagiaan dan rasa suka selain duka

kepdamu bidadari khayalku
mendekatlah; karena bukan aku seorang yang ingin melukai perasaan mu
sungguh jiwaku adalah jiwa suci yang di bersihkan dari keruhnya hitam arti cinta
biarkan aku tertidur bersama mu; mendamaikan perasaan ku
biarkan aku terus berada di sisimu

duhai bidadari khayalku dimana engkau berada saat ini

August 29, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet

kenangan yang tak tergantikan

disaat kau bersamaku; // cahaya rembulan membasuh kulitku dan kulitmu
sedang cahaya bintang menyentuh wajahmu, membuat ia begitu indah dan menentramkan jiwa yang melihat pesonanya

kekasih; kukatakan padamu/ kenangan kemarin adalah kenangan yang takkan tergantikan oleh kisah manapun di belahan dunia ini; ia adalah kenangan yang melekat; se akan-akan ia adalah bagian dari tubuhku, dan tak mungkin aku meninggalkannya;

kekasih; kukatakan kepadamu ku bisikkan hatimu; bahwa aku takkan sanggup menghapus semua kenangan indah tentangmu

August 29, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet

DUA KEINGINAN

Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.

Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah kediaman – berhati-hati tidak menyentuh apa-apa pun – sehingga tiba di sebuah istana. Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang , dan tika ia? menyentuh dahi? si lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang dengan penuh ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan, “Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan? Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah, akulah tuan rumah ini. Nyahlah kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku? untuk mencincangmu menjadi kepingan!”

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan tunduklah padaku.”

Dan si lelaki? itu menjawab, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang meloyakan.”

Namun selepas tersedar, dia menambah dengan ketakutan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai dan berhutang emas dengan orang. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku… Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan yang? luarbiasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber kegembiraan hidupku. Kutawarkan dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu mengeruh,”Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sedar diri.”? Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.

Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling daif yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah rohku, kerana kaulah harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, kerana kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.”

“Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang. Tapi kini kau telah mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diri. Peluklah rohku, Sang Maut yang dikasihi.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruh roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia – dan dalam bisikan amaran ia berkata, “Hanya mereka? di dunia yang? mencari Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu.”

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

:+: Kahlil Gibran :+:

August 28, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet

kepadamu pencuri hatiku

kepadamu wahai pencuri cintaku//

kemanapun kau lari, kemanapun kau bersembunyi; kukatakan kepadamu pencuri cinta-ku// aku mencarimu

kepadamu // yang menambah berat perasaanku untuk pergi,; ku katakan aku mencarimu// jiwa, hati dan perasaanku tlah kau miliki,// cinta, kasih dan sayangku tlah kau miliki, kukatakan padamu; hatiku menginginkanmu

kepadamu wahai pencuri cintaku// tidakkah kau merasa bahwa aku adalah pasangan hatimu; belahan jiwamu dan cinta bagimu//

aku menginginkanmu, seperti kuinginkan impianku//

August 28, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet