pertukaran jiwa
betapa jiwa dan hatiku sungguh merasa bersedih;;
pohon pohon seakan berbicara” kasihan engkau wahai pemuda”
sungguh jejak jejak pikiranku terhapus benciku/
jiwa-jiwa dalam tubuhku menolak kedamaian;
kepadamu yang tlah mengusik hatiku, kepadamu yang telah mengganggu pikiranku, dan kepadamu yang telah membangunkan lelap malamku//
menista-kan hati , kurasa jiwa seakan-akan kaulah yang membunuhnya;
kepadamu yang mengusik mimpiku, menggantikan dengan sehelai kain hitam//
ku katakan padamu, aku benci kukatakan aku benci kukatakan aku benci ku katakan bahwa aku benci mengatakan sayangku kepadamu//
kepadamu yang membuatku menanyakan diriku;
takkah kau kasihan padaku/ mencintaimu dan menyayangimu seperti kujaga pagi dari malam, seperti kujaga tanah dari hujan, dan seperti kujaga udara dari angin,
kujaga semua perasaanku untuk mengatakan aku menyukaimu;
kepadamu , dengarlah aku ;
dengarlah isi hatiku//
Biar Berkelok Harap
mungkin bagimu masih banyak debu
yang kubawa dari masa lalu
puing-puing gerimis memenuhi kepala
dengan sisa dedaun runtuh
sudah kubersihkan dengan tiap abjad
yang kau ucap padaku
dan kuanggap sebagai mantra
mengiringi semua langkah
masihkah tetap tak kau percaya?
bila kata bisa berubah
bukankah begitu juga bait
yang kubawa padamu
belenggu yang membuat gigil
hingga berserak peluh dan luka
bukanlah perih yang terus tertancap
di tiap celah waktu kita
pada retak malam yang lelap
sambil memeluk harapan
tataplah alur yang melaju
di situ esok kita akan hinggap
memang berkelok harap kita
tapi tetaplah abjad dan kata
tidaklah jadi sia-sia
aku
bintang hilang di gelapnya pantai;
angin tak mau tau, aku menggigil ;
raba sisi dinding langit, ia menggertak//
l elah , patah, hampa, aku letih”
kemana hilangmu?
sedang aku mencarimu
kemana jiwamu, sedang aku memanggilmu
aku lelah
PERSAHABATAN
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
-”khalil gibran”-
Rumah Tak Berdinding
Aku mengerti bahwa hidup ini hanya merupakan sebuah rangkaian aksi yang berkesinambungan. Sebuah rangkaian cerita yang takpernah dirumuskan ataupun ditulis secara nyata. Sebuah rutinitas kompleks yang dibentuk oleh keinginan, harapan, dan pemberontakan.
Aku bercermin dari kepribadian orang-orang yang takpernah memikirkan suatu tujuan. Mereka menghadapi masa depan yang tenang tanpa ada sebuah asa yang berarti. Mereka bersikap seolah-olah hidup ini telah memiliki skenario yang pasti bagi masing-masing mereka. Mereka seolah-olah lupa akan jaminan perubahan yang dijanjikan kepada mereka apabila mereka berusaha menemukan arti kehidupan yang lebih baik.
Aku takpernah melihat sebuah gemerlapnya hidup yang seharusnya tercermin dari paras wajah mereka. Aku tidak menemukan kualitas hidup dari mereka. Sebuah ideologi kuno dan budaya turunan yang sangat bertentangan dengan sejengkal ilmu yang kumiliki. Sebuah pemberontakan minoritas yang muncul dari hati kecil yang selalu mendambakan arti perjalanan jiwa yang lemah.
Mungkinkan keberanian untuk berbeda ini tidak beralasan? Apakah hanya sebuah ledakan takberarti yang muncul karena hormon yang sedang bergejolak? Atau mungkin sebuah bukti bahwa hanya sebagian kecil manusia yang kuat dan berkeinginan untuk mencari realitas demi membuktikan bahwa skenario hidup yang selama ini dianggap kompleks dan rumit merupakan sebuah garis lurus fleksibel yang dapat dibentuk apabila kita berkehendak dan mencoba merubah bentuknya agar dapat menyuarakan sedikit senyuman?
Mungkin semuanya terasa sangat membingungkan yang mungkin bisa membuatku tersesat dan terlalu jauh berjalan. Aku takut otak kecil ini tidak kuasa mengolah semua kerancuan pengertian yang selama ini menuntun kemudi hati ini. Aku takut punggung ini takdapat menemukan dinding sandaran untuk menopang letihnya. Aku takut akan kenyataan bahwa manusia itu sebenarnya hanyalah sebuah bentuk ketidakmampuan dengan sifat arogan yang berlebihan. Tapi bukankan karena itu kita hidup bertuhan?
-
Archives
- January 2009 (1)
- July 2008 (1)
- June 2008 (5)
- April 2008 (1)
- March 2008 (1)
- February 2008 (2)
- January 2008 (2)
- December 2007 (1)
- November 2007 (8)
- October 2007 (5)
- September 2007 (5)
- August 2007 (26)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


