bayoeaza’s

Just another bayoetech web blog’s

aku

bintang hilang di gelapnya pantai;

angin tak mau tau, aku menggigil ;

raba sisi dinding langit, ia menggertak//

l elah , patah, hampa, aku letih”

kemana hilangmu?

sedang aku mencarimu
kemana jiwamu, sedang aku memanggilmu

aku lelah

September 4, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet

PERSAHABATAN

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

-”khalil gibran”-

September 4, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet

Rumah Tak Berdinding

Aku mengerti bahwa hidup ini hanya merupakan sebuah rangkaian aksi yang berkesinambungan. Sebuah rangkaian cerita yang takpernah dirumuskan ataupun ditulis secara nyata. Sebuah rutinitas kompleks yang dibentuk oleh keinginan, harapan, dan pemberontakan.

Aku bercermin dari kepribadian orang-orang yang takpernah memikirkan suatu tujuan. Mereka menghadapi masa depan yang tenang tanpa ada sebuah asa yang berarti. Mereka bersikap seolah-olah hidup ini telah memiliki skenario yang pasti bagi masing-masing mereka. Mereka seolah-olah lupa akan jaminan perubahan yang dijanjikan kepada mereka apabila mereka berusaha menemukan arti kehidupan yang lebih baik.

Aku takpernah melihat sebuah gemerlapnya hidup yang seharusnya tercermin dari paras wajah mereka. Aku tidak menemukan kualitas hidup dari mereka. Sebuah ideologi kuno dan budaya turunan yang sangat bertentangan dengan sejengkal ilmu yang kumiliki. Sebuah pemberontakan minoritas yang muncul dari hati kecil yang selalu mendambakan arti perjalanan jiwa yang lemah.

Mungkinkan keberanian untuk berbeda ini tidak beralasan? Apakah hanya sebuah ledakan takberarti yang muncul karena hormon yang sedang bergejolak? Atau mungkin sebuah bukti bahwa hanya sebagian kecil manusia yang kuat dan berkeinginan untuk mencari realitas demi membuktikan bahwa skenario hidup yang selama ini dianggap kompleks dan rumit merupakan sebuah garis lurus fleksibel yang dapat dibentuk apabila kita berkehendak dan mencoba merubah bentuknya agar dapat menyuarakan sedikit senyuman?

Mungkin semuanya terasa sangat membingungkan yang mungkin bisa membuatku tersesat dan terlalu jauh berjalan. Aku takut otak kecil ini tidak kuasa mengolah semua kerancuan pengertian yang selama ini menuntun kemudi hati ini. Aku takut punggung ini takdapat menemukan dinding sandaran untuk menopang letihnya. Aku takut akan kenyataan bahwa manusia itu sebenarnya hanyalah sebuah bentuk ketidakmampuan dengan sifat arogan yang berlebihan. Tapi bukankan karena itu kita hidup bertuhan?

September 4, 2007 Posted by bayoeaza | Prosa | | No Comments Yet